Upacara "melukat" adalah salah satu jenis upacara membersihkan diri. Melukat dipercayai dapat membersihkan pikiran dan jiwa secara spiritual.
Melukat umumnya dilakukan dengan beberapa sesajen, seperti : prascita dan bayuan. Pelukatan bisa dilakukan di : griya, pantai, tempat pemujaan di rumah. Pertama-tama sang pemangku (pemimpin upacara) mengucapkan mantra-mantra di depan sesajen, trus, yang akan dilukat (dibersihkan) diberi beberapa mantra dan disiram dengan air kelapa gading. Setelah mandi air kelapa gading, kemudian, alangkah baiknya juga yang bersangkutan melakukan ritual mandi air laut. Air laut dipercayai dapat membersihkan jiwa dan pikiran dari hal-hal negatif.
Melukat ini penting untuk mengembalikan unsur-unsur negatif dari tubuh dan pikiran manusia. Dengan melukat, pemeluk agama Hindu di Bali mengharapkan seseorang itu pikirannya kembali bersih dan berisikan hal-hal yang positif untuk melanjutkan hidupnya.
15 Januari 2008
14 Januari 2008
Rujak Kuah Pindang
Mungkin tak banyak yang tau kalo Bali juga menyimpan banyak jenis makanan enak. Seperti Rujak Kuah Pindang, contohnya.
Rujak ini berasal dari daerah Denpasar. Bahan-bahannya sama seperti jenis rujak lainnya. Yang membedakan adalah kuahnya, yaitu dibuat dari kuah pindang, yaitu rebusan kaldu ikan. Bumbunya sederhana, terdiri dari : cabe, garam, terasi. Buah-buahan segar diiris tipis-tipis, kemudian disirami kuah pindang ini.
Rujak Kuah Pindang paling enak disantap ditemani es daluman (cincau hijau). Kalau kepedesan, krupuk pun enak disantap untuk menetralisir rasa pedas.
Rujak Kuah Pindang mudah didapatkan. Umumnya pedagang-pedagang kecil ini muncul di hampir setiap banjar. Cuma, rujak ini cuma bisa didapat pas siang hari. Kalo sore dan malam hari mah sudah pada tutup tuh pedagangnya.
Kalo ke Bali..jangan lupa ya..makan rujak kuah pindang..Duh...sedaaaap
Rujak ini berasal dari daerah Denpasar. Bahan-bahannya sama seperti jenis rujak lainnya. Yang membedakan adalah kuahnya, yaitu dibuat dari kuah pindang, yaitu rebusan kaldu ikan. Bumbunya sederhana, terdiri dari : cabe, garam, terasi. Buah-buahan segar diiris tipis-tipis, kemudian disirami kuah pindang ini.
Rujak Kuah Pindang paling enak disantap ditemani es daluman (cincau hijau). Kalau kepedesan, krupuk pun enak disantap untuk menetralisir rasa pedas.
Rujak Kuah Pindang mudah didapatkan. Umumnya pedagang-pedagang kecil ini muncul di hampir setiap banjar. Cuma, rujak ini cuma bisa didapat pas siang hari. Kalo sore dan malam hari mah sudah pada tutup tuh pedagangnya.
Kalo ke Bali..jangan lupa ya..makan rujak kuah pindang..Duh...sedaaaap
11 Januari 2008
From the Zero Point
Pernahkah merasa gagal? Well, aku dalam keadaan itu sekarang ini. Kegagalan datang bertubi-tubi. Segala hal yang aku percaya tiba-tiba tidak memberiku kebahagiaan lagi. Lantai tempatku berpijak terasa runtuh.
Menjadi pecundang itu memang tidak enak. Merasa diri kalah dan tak berguna. Tapi kan hidup mesti dilanjutkan. Kegagalan hari ini bukan berarti kegagalan di hari esok.
Aku mencoba membangkitkan lagi "feeling of hero" itu. Aku mencoba mengerti kalau kesuksesan tidak datang begitu saja. Mesti diraih. Mesti diusahakan.
Yah..mendadak aku menjadi "balita" lagi, ketika hidupku terjatuh ke titik nadir. Tapi tidaklah apa. Meratap tidak banyak guna. Tidak akan membuat keadaan menjadi lebih baik. Sekarang ini bagaimana caranya untuk membina diri ke arah yang lebih baik, ke arah yang positif.
Aku mulai dari titik nol lagi. Menyuapi diriku. Menatah kakiku. Melatih tanganku. Mengangkat benakku dari keterpurukan.
Yang kemarin biarlah menjadi kemarin. Yang ada hanya hari esok dan esok.
Aku harus kuat dan sabar. Selamat datang hari esok!
08 Desember 2007
Stereotip Perempuan Bali
Apa bayangan perempuan Bali yang muncu di benakmu? Perempuan berjejer menyunggi sesajen, menggandeng anak di tangan kiri dan kanannya? Atau perempuan bertelanjang dada seperti di lukisan-lukisan Blanco? Atau, perempuan yang pandai menari, berambut panjang dan mengenakan kain kebaya?
Bicara mengenai stereotip perempuan Bali, tentu mesti ngomong secara umum saja. Perempuan Bali bisa dibagi menjadi beberapa kelompok usia : remaja (12 - 18 thn), dewasa (19 - 55 thn) dan tua (55 tahun keatas).
Pada usia remaja, perempuan Bali tak ada bedanya dengan perempuan remaja lainnya di Indonesia. Bersekolah, memiliki aktivitas-aktivitas ekstra kurikuler, berpacaran. Bedanya hanyalah perempuan remaja Bali sudah mulai ikut aktivitas adat, seperti : ikut terlibat dalam karang taruna, mulai belajar membuat banten, diikutkan menari di acara-acara keagamaan, dsb. Stereotip mengenai gadis remaja Bali bertelanjang dada mengenakan busana adat Bali sudah tidak ada lagi di zaman modern ini.
Pada usia dewasa awal, perempuan Bali sudah bersiap untuk hidup berumah tangga. Kehidupan perempuan Bali mulai terbalik sekian puluh derajat setelah menikah. Sekian beban dan kewajiban rumah tangga dan adat mulai diberikan. Stereotip perempuan Bali yang bekerja keras, sampai mengambil pekerjaan kasar bisa dilihat di berbagai wilayah Bali. Hal ini benar adanya. Perjuangan perempuan Bali sangat terasa dalam setiap sendi kehidupan, dari kehidupan dimulai di pagi hari hingga petang hari. Belum lagi perjuangan yang mesti juga dilakukan di luar rumah. Hal ini membentuk stereotip jiwa perempuan Bali yang "keras", jarang mengeluh, penuh perjuangan, tidak mengenal putus asa. Sayangnya, karena konsep patriarkal yang kental, stereotip perempuan Bali yang "pendiam", malas bicara dan pengalah pun terbentuk. Kesenjangan kesetaraan gender dalam hal berbicara di muka umum masih terasa hingga kini.
Pada usia tua, stereotip perempuan Bali mengikuti konsep Hindu, yaitu : pengabdian hidupnya sudah mulai mengarah pada pengabdian kepada Tuhan. Sehingga tak heran, perempuan-perempuan tua mendominir kegiatan-kegiatan adat, terutama dalam mempersiapkan segala bentuk sesajen. Streotipnya : bijaksana, mengayomi, memasrahkan hidup pada Tuhan.
Bagaimanapun, streotip perempuan Bali tak lepas dari budaya yang membesarkannya. Streotip yang hidup karena kekentalan adat patriarkal. Tapi dengan adanya pendidikan dan masuknya budaya global dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali, lambat laun stereotip ini bisa saja berubah dimasa depan.
Bicara mengenai stereotip perempuan Bali, tentu mesti ngomong secara umum saja. Perempuan Bali bisa dibagi menjadi beberapa kelompok usia : remaja (12 - 18 thn), dewasa (19 - 55 thn) dan tua (55 tahun keatas).
Pada usia remaja, perempuan Bali tak ada bedanya dengan perempuan remaja lainnya di Indonesia. Bersekolah, memiliki aktivitas-aktivitas ekstra kurikuler, berpacaran. Bedanya hanyalah perempuan remaja Bali sudah mulai ikut aktivitas adat, seperti : ikut terlibat dalam karang taruna, mulai belajar membuat banten, diikutkan menari di acara-acara keagamaan, dsb. Stereotip mengenai gadis remaja Bali bertelanjang dada mengenakan busana adat Bali sudah tidak ada lagi di zaman modern ini.
Pada usia dewasa awal, perempuan Bali sudah bersiap untuk hidup berumah tangga. Kehidupan perempuan Bali mulai terbalik sekian puluh derajat setelah menikah. Sekian beban dan kewajiban rumah tangga dan adat mulai diberikan. Stereotip perempuan Bali yang bekerja keras, sampai mengambil pekerjaan kasar bisa dilihat di berbagai wilayah Bali. Hal ini benar adanya. Perjuangan perempuan Bali sangat terasa dalam setiap sendi kehidupan, dari kehidupan dimulai di pagi hari hingga petang hari. Belum lagi perjuangan yang mesti juga dilakukan di luar rumah. Hal ini membentuk stereotip jiwa perempuan Bali yang "keras", jarang mengeluh, penuh perjuangan, tidak mengenal putus asa. Sayangnya, karena konsep patriarkal yang kental, stereotip perempuan Bali yang "pendiam", malas bicara dan pengalah pun terbentuk. Kesenjangan kesetaraan gender dalam hal berbicara di muka umum masih terasa hingga kini.
Pada usia tua, stereotip perempuan Bali mengikuti konsep Hindu, yaitu : pengabdian hidupnya sudah mulai mengarah pada pengabdian kepada Tuhan. Sehingga tak heran, perempuan-perempuan tua mendominir kegiatan-kegiatan adat, terutama dalam mempersiapkan segala bentuk sesajen. Streotipnya : bijaksana, mengayomi, memasrahkan hidup pada Tuhan.
Bagaimanapun, streotip perempuan Bali tak lepas dari budaya yang membesarkannya. Streotip yang hidup karena kekentalan adat patriarkal. Tapi dengan adanya pendidikan dan masuknya budaya global dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali, lambat laun stereotip ini bisa saja berubah dimasa depan.
22 November 2007
Tat Twam Asi
"aku adalah engkau, engkau adalah aku."
Jika aku adalah kamu, maka aku selayaknya menyayangimu, sesayang aku pada tubuh dan jiwaku. Sesakit aku menyakiti diriku, seperti itulah jika aku menyakitimu. Aku tak ingin hatimu retak seperti cawan keramik terkena goyangan gempa.
Jika aku mencelamu, maka aku mencela diriku sendiri. Mencemoohmu, sama dengan mencemoohku.
Bijak dan bajik, dua kata yang mesti terukir di benakku, untuk menyayangimu. Namun terkadang, sifat sad ripu menarikan kecak, berkeliling di api unggun, mengodaku untuk menyakitimu. Membuat air matamu tumpah, menggenang di dadamu yang kukuh. Kamu merenda kata dalam diammu, yang tak mampu kumengerti. Kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa dengki, iri, marah, bingung, bodoh. Gelap, terkadang gelap menguasaiku.
Maafkan aku. Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan padamu.
Jika aku mencelamu, maka aku mencela diriku sendiri. Mencemoohmu, sama dengan mencemoohku.
Bijak dan bajik, dua kata yang mesti terukir di benakku, untuk menyayangimu. Namun terkadang, sifat sad ripu menarikan kecak, berkeliling di api unggun, mengodaku untuk menyakitimu. Membuat air matamu tumpah, menggenang di dadamu yang kukuh. Kamu merenda kata dalam diammu, yang tak mampu kumengerti. Kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa dengki, iri, marah, bingung, bodoh. Gelap, terkadang gelap menguasaiku.
Maafkan aku. Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan padamu.
(Ajaran Tat Twam Asi berasal dari ajaran agama Hindu di India. Artinya : "aku adalah engkau, engkau adalah aku." Filosofi yang termuat dari ajaran ini adalah bagaimana kita bisa berempati, merasakan apa yang tengah dirasakan oleh orang yang di dekat kita. Ketika kita menyakiti orang lain, maka diri kita pun tersakiti. Ketika kita mencela orang lain, maka kita pun tercela. Maka dari itu, bagaimana menghayati perasaan orang lain, bagaimana mereka berespon akibat dari tingkah laku kita, demikianlah hendaknya ajaran ini menjadi dasar dalam bertingkah laku.)
29 Oktober 2007
Ketupat Be Pasih
Satu porsi terdiri dari satu buah ketupat berukuran besar dibelah dua atau nasi panas sepiring, kemudian lauknya bisa memilih sesuai selera. Di atasnya kemudian ditaburi kacang goreng.
Seporsi harganya tergantung lauk yang dipilih. Rata-rata harganya Rp 7,000 - Rp 8,000 rupiah. Tapi kalau milih rajungan/kepiting kuah, harganya bisa dua kali lipat. Ada yang sampai kena biaya sampai RP 25,000 per porsi karena beli rajungan terpisah pakai mangkok. Kalau masalah rasa, bagi penggemar seafood, wuaahhh...ditanggung tidak akan kecewa. Tapi kalo ke sana mesti pagi-pagi. Di atas jam sembilan pagi lauknya sudah habis!
Kalo mau tau lokasinya, coba cari dulu perempatan menuju Siligita. Dari perempatan situ, kurang lebih 2 km di sebelah kanan jalan, cari warung yang ada pajangan makanan, trus depannya ada Bale Bengong.
Untuk ukuran perut perempuan, satu porsi bisa bikin males makan siang lo....Selamat mencoba!
28 Oktober 2007
Karena Engkau Adalah Rumah
Karena engkau adalah rumah
aku mengisimu dengan perabotan
seperangkat hati yang belum sempurna
satu set sofa kasih sayang
sebuah lemari penuh lipatan baju hangat
satu kulkas penuh sayuran segar beraroma cinta
Engkau memberiku sarang
yang kemudian kusebut rumah
memberiku kehangatan
dari perapian hatimu yang lugu
Engkau adalah rumah
tempatku pulang
membawa penat dan lelahku
menyandarkan capai dalam pilar-pilarmu
Meski bangunanmu bukan terbuat dari batu dan semen
berhiaskan paras dan batu palimanan
aku nyaman berada di sana
dan kusebut engkau sebagai rumah
sarang tempatku bernaung
meski engkau bukan yang terbaik diantara yang terbaik
tapi engkaulah yang terbaik dari yang baik
Karena engkau adalah rumah
maka hatiku kuletakkan di sana
bersama dua hati kecil
yang telah menetas dari telurku yang kau erami
Biarkan aku menetap di sana
hingga maut memanggilku pulang
karena aku bahagia
memilikimu sebagai rumahku
aku mengisimu dengan perabotan
seperangkat hati yang belum sempurna
satu set sofa kasih sayang
sebuah lemari penuh lipatan baju hangat
satu kulkas penuh sayuran segar beraroma cinta
Engkau memberiku sarang
yang kemudian kusebut rumah
memberiku kehangatan
dari perapian hatimu yang lugu
Engkau adalah rumah
tempatku pulang
membawa penat dan lelahku
menyandarkan capai dalam pilar-pilarmu
Meski bangunanmu bukan terbuat dari batu dan semen
berhiaskan paras dan batu palimanan
aku nyaman berada di sana
dan kusebut engkau sebagai rumah
sarang tempatku bernaung
meski engkau bukan yang terbaik diantara yang terbaik
tapi engkaulah yang terbaik dari yang baik
Karena engkau adalah rumah
maka hatiku kuletakkan di sana
bersama dua hati kecil
yang telah menetas dari telurku yang kau erami
Biarkan aku menetap di sana
hingga maut memanggilku pulang
karena aku bahagia
memilikimu sebagai rumahku
Langganan:
Postingan (Atom)