Konsep "Rwa Bhineda" di Bali tak jauh beda dengan konsep "Yin and Yang" dalam filosofi Cina. Dalam konsep Rwa Bhineda disebutkan kalau dalam dunia ini ada "hitam" dan "putih". Konsep ini berlaku pada apa saja, mulai dari dalam diri manusia itu sendiri, yaitu adanya sifat "hitam" atau buruk dan sifat "putih" atau baik, hingga ke seluruh isi alam semesta ini.
Sifat dualisme ini sendiri sebenarnya berlaku universal, sesuatu yang kontras bila didekatkan, justru akan membentuk kesempurnaan. Contoh : kutub positif dan kutub negatif yang didekatkan, justru akan menciptakan aliran listrik, seperti berlaku dalam baterai. Demikian juga dalam pernikahan, ketika dua jenis kelamin berbeda bersatu, kehidupanlah yang disempurnakan dengan kehadiran anak.
Sifat dualisme yang kontras dalam Rwa Bhineda juga disimbolkan dengan warna hitam dan putih. Hal ini bisa dilihat dalam beberapa corak kain Bali yang bermotif kotak-kotak hitam-putih yang biasa digunakan untuk "sarung" dalam tugu penjaga rumah di Bali.
Pada prinsipnya, masyarakat Bali mempercayai konsep ini. Kepercayaan mengenai konsep ini pula yang menyebabkan manusia Bali selalu berusaha menyikapi beberapa fenomena alam dengan bijaksana. Mindsetnya selalu dikembalikan ke pemikiran,"bahwa dalam dunia ini selalu ada hitam dan putih. Namun, pada akhirnya keduanya ini akan membawa dunia ke dalam keseimbangannya."
Tampilkan postingan dengan label Mengenai Bali. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mengenai Bali. Tampilkan semua postingan
18 Maret 2008
22 Februari 2008
KOH NGOMONG

“Koh ngomong” atau “malas bicara”, adalah suatu ungkapan populer di Bali yang mencerminkan sikap orang Bali yang tidak suka berdebat panjang untuk menjaga harmonisasi hubungan antar individu. Meski ungkapan ini mengandung makna yang sedikit sinis dan satire, kata ini sebenarnya menyiratkan pemikiran orang Bali sendiri terhadap masalah hubungan antar individu.
Orang Bali secara umum memegang teguh konsep harmonisasi baik lateral maupun vertikal, yang tertuang dalam konsep berpikir “Tri Hita Karana” (menjaga hubungan baik dengan Tuhan, manusia dan alam). Dan karena perdebatan yang panjang akhirnya justru bisa merusakkan hubungan antar sesama, maka orang Bali memilih “malas bicara” atau “koh ngomong”.
Malasnya orang Bali berdebat juga tertuang dalam salah satu ungkapan dalam sastra Bali, yaitu “merebut balung tanpa isi”, yang artinya :”memperebutkan tulang tanpa isi” atau interpretasinya berarti : sia-sia memperdebatkan sesuatu yang tidak ada isinya. Hal ini bisa dilihat dalam pergaulan masyarakat Bali sehari-hari. Orang Bali cenderung menghindari perdebatan. Cenderung memilih diam dan tidak merespon jika percakapan sudah mengarah pada perdebatan.
Kekuatan kelompok dalam berbicara juga berpengaruh kuat dalam pemikiran individu terhadap cara mereka mengemukakan pendapat. Konsep kebersamaan dalam menjaga keutuhan kelompok menciptakan suatu tekanan psikologis agar individu mengerem pengedepanan ego dalam mengemukakan pendapat di depan umum. Individu cenderung mengiyakan apa pendapat mayoritas kelompoknya. Pendapat yang bertentangan atau berseberangan, cenderung dianggap dapat merusak harmonisasi itu sendiri. Sehingga terbentuklah suatu pola pikir „koh ngomong“ ini.
Konsep ini bisa dipandang dari 2 sisi : positif dan negatif. Positifnya, tentu saja kemudahan terciptanya kerukunan antar individu dalam suatu kelompok atau harmoni, sedangkan negatifnya, tentu saja ada pengekangan terhadap kebebasan dalam mengemukakan pendapat.
Budaya « koh ngomong adalah salah satu ciri masyarakat Bali dalam mengemukakan pendapat di kelompok. Budaya ini tercipta karena adanya keinginan untuk menjaga harmonisasi kelompok. Juga, dikuatkan dengan pola pikir tidak ingin memperdebatkan sesuatu yang tidak terlalu penting. Pemikiran yang tertuang dalam ungkapan : merebut balung tanpa isi.
18 Februari 2008
CANANG SARI

Berbicara masalah budaya Bali, tidak akan pernah terlepas dari agama Hindu yang dianut mayoritas masyarakat Bali. Dalam suatu konsep agama Hindu dalam mempersiapkan sarana persembahyangan, yang antara lain : air, api, bunga, buah, daun. Dalam budaya Bali, konsep ini kemudian dipraktekkan dalam wujud seni. Salah satunya adalah keanekaragaman bentuk sesajen.
Canang sari adalah bentuk sesajen paling sederhana namun dikategorikan sebagai sarana yang cukup untuk melakukan persembahyangan. Canang sari sendiri bermakna : sesajen dalam bentuk bunga (komponennya mayoritas bunga). Di delapan kabupaten di Bali, bentuk canang sari beranekaragam. Namun, bentuk canang sari yang populer adalah canang sari segi empat.
Komponen canang sari :
- Daun janur sebagai alas;
- Porosan (sebentuk kecil daun janur kering yang berisi kapur putih);
- Seiris pisang;
- Seiris tebu:
- Boreh miik (sejenis bubuk berbau wangi);
- Kekiping (sejenis kue dari ketan yang kecil dan tipis);
- Di atasnya diletakkan bunga beraneka ragam (umumnya berupa warna : putih, kuning, merah, hijau);
Isi canang sari mengikuti aturan-aturan yang tertuang dalam lontar. Jadi, canang sari tidak diambil dari kitab Weda, namun isi Weda yang kemudian diterjemahkan ke dalam lontar yang ditulis oleh para leluhur di Bali.
Canang sari umum dipakai sebagai persembahan sehari-hari. Sedangkan pada hari-hari besar keagamaan, canang sari hanya dipakai sebagai pelengkap saja. Pada hari-hari tersebut, masyarakat Bali memakai berbagai jenis sesajen dalam tingkat yang lebih tinggi, yang pembuatan dan aturan isinya jauh lebih rumit daripada canang sari.
Canang sari sangat mudah didapatkan di pasar-pasar tradisional di Bali. Harganya beraneka ragam, namun umumnya tidak terlalu mahal. Untuk daerah Denpasar dan sekitarnya, harga 25 buah canang sari dipatok Rp 6.000 – Rp 7.000 rupiah. Pada hari-hari tertentu, terutama pada hari-hari raya besar, canang sari mengalami pelonjakan harga. Bisa mencapai Rp 9.000 – Rp 10.000 per 25 buah.
Meski sederhana, canang sari sangat populer dan dibutuhkan di Bali. Selain itu, canang sari sangat cantik dan indah dipandang. Apalagi ditambah dupa di atasnya dan dicipratkan air suci, ada aura kesejukan yang dipancarkan dari canang sari
14 Februari 2008
TRI KAYA PARISUDHA
Masyarakat Bali memang tak pernah terlepas dari bayang-bayang agama Hindu. Begitu menyatu dan membaur. Demikian pula dalam cara berpikirnya. Salah satu landasan berpikir dan berperilaku, yaitu : Tri Kaya Parisudha. Tri Kaya Parisudha berarti : tiga landasan dalam bertingkah laku. Tri Kaya Parisudha terdiri dari :
- Berpikir yang baik
- Berkata yang baik
- Bertingkah laku yang baik
Filosofi ini mengajarkan kepada masyarakat Bali untuk : satu pikiran, perkataan dan perbuatan.
Sebenarnya, meski filosofi ini sudah tercipta lama sekali, tapi masih relevan dengan kehidupan masyarakat Bali modern. Filosofi masih tetap dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
Kalau dicari-cari, filosofi ini sangat universal. Seperti dalam dunia Barat, dikenal istilah :integrity, commitment. Kalau dilihat dari makna yang tersurat di dalam kedua kata ini, samalah dengan konsep Tri Kaya Parisudha itu.
Masyarakat Bali, secara umum tetap mengusung tradisi dan akar agama Hindu. Hal inilah yang kemudian membentuk warna dan ciri khas budaya Bali. Tri Kaya Parisudha, sebagai salah satu konsep berpikir, kemudian juga memberi kontribusi terhadap identitas budaya Bali itu sendiri.
- Berpikir yang baik
- Berkata yang baik
- Bertingkah laku yang baik
Filosofi ini mengajarkan kepada masyarakat Bali untuk : satu pikiran, perkataan dan perbuatan.
Sebenarnya, meski filosofi ini sudah tercipta lama sekali, tapi masih relevan dengan kehidupan masyarakat Bali modern. Filosofi masih tetap dipakai dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Bali, sebagai pedoman dalam bertingkah laku.
Kalau dicari-cari, filosofi ini sangat universal. Seperti dalam dunia Barat, dikenal istilah :integrity, commitment. Kalau dilihat dari makna yang tersurat di dalam kedua kata ini, samalah dengan konsep Tri Kaya Parisudha itu.
Masyarakat Bali, secara umum tetap mengusung tradisi dan akar agama Hindu. Hal inilah yang kemudian membentuk warna dan ciri khas budaya Bali. Tri Kaya Parisudha, sebagai salah satu konsep berpikir, kemudian juga memberi kontribusi terhadap identitas budaya Bali itu sendiri.
15 Januari 2008
Melukat
Upacara "melukat" adalah salah satu jenis upacara membersihkan diri. Melukat dipercayai dapat membersihkan pikiran dan jiwa secara spiritual.
Melukat umumnya dilakukan dengan beberapa sesajen, seperti : prascita dan bayuan. Pelukatan bisa dilakukan di : griya, pantai, tempat pemujaan di rumah. Pertama-tama sang pemangku (pemimpin upacara) mengucapkan mantra-mantra di depan sesajen, trus, yang akan dilukat (dibersihkan) diberi beberapa mantra dan disiram dengan air kelapa gading. Setelah mandi air kelapa gading, kemudian, alangkah baiknya juga yang bersangkutan melakukan ritual mandi air laut. Air laut dipercayai dapat membersihkan jiwa dan pikiran dari hal-hal negatif.
Melukat ini penting untuk mengembalikan unsur-unsur negatif dari tubuh dan pikiran manusia. Dengan melukat, pemeluk agama Hindu di Bali mengharapkan seseorang itu pikirannya kembali bersih dan berisikan hal-hal yang positif untuk melanjutkan hidupnya.
Melukat umumnya dilakukan dengan beberapa sesajen, seperti : prascita dan bayuan. Pelukatan bisa dilakukan di : griya, pantai, tempat pemujaan di rumah. Pertama-tama sang pemangku (pemimpin upacara) mengucapkan mantra-mantra di depan sesajen, trus, yang akan dilukat (dibersihkan) diberi beberapa mantra dan disiram dengan air kelapa gading. Setelah mandi air kelapa gading, kemudian, alangkah baiknya juga yang bersangkutan melakukan ritual mandi air laut. Air laut dipercayai dapat membersihkan jiwa dan pikiran dari hal-hal negatif.
Melukat ini penting untuk mengembalikan unsur-unsur negatif dari tubuh dan pikiran manusia. Dengan melukat, pemeluk agama Hindu di Bali mengharapkan seseorang itu pikirannya kembali bersih dan berisikan hal-hal yang positif untuk melanjutkan hidupnya.
08 Desember 2007
Stereotip Perempuan Bali
Apa bayangan perempuan Bali yang muncu di benakmu? Perempuan berjejer menyunggi sesajen, menggandeng anak di tangan kiri dan kanannya? Atau perempuan bertelanjang dada seperti di lukisan-lukisan Blanco? Atau, perempuan yang pandai menari, berambut panjang dan mengenakan kain kebaya?
Bicara mengenai stereotip perempuan Bali, tentu mesti ngomong secara umum saja. Perempuan Bali bisa dibagi menjadi beberapa kelompok usia : remaja (12 - 18 thn), dewasa (19 - 55 thn) dan tua (55 tahun keatas).
Pada usia remaja, perempuan Bali tak ada bedanya dengan perempuan remaja lainnya di Indonesia. Bersekolah, memiliki aktivitas-aktivitas ekstra kurikuler, berpacaran. Bedanya hanyalah perempuan remaja Bali sudah mulai ikut aktivitas adat, seperti : ikut terlibat dalam karang taruna, mulai belajar membuat banten, diikutkan menari di acara-acara keagamaan, dsb. Stereotip mengenai gadis remaja Bali bertelanjang dada mengenakan busana adat Bali sudah tidak ada lagi di zaman modern ini.
Pada usia dewasa awal, perempuan Bali sudah bersiap untuk hidup berumah tangga. Kehidupan perempuan Bali mulai terbalik sekian puluh derajat setelah menikah. Sekian beban dan kewajiban rumah tangga dan adat mulai diberikan. Stereotip perempuan Bali yang bekerja keras, sampai mengambil pekerjaan kasar bisa dilihat di berbagai wilayah Bali. Hal ini benar adanya. Perjuangan perempuan Bali sangat terasa dalam setiap sendi kehidupan, dari kehidupan dimulai di pagi hari hingga petang hari. Belum lagi perjuangan yang mesti juga dilakukan di luar rumah. Hal ini membentuk stereotip jiwa perempuan Bali yang "keras", jarang mengeluh, penuh perjuangan, tidak mengenal putus asa. Sayangnya, karena konsep patriarkal yang kental, stereotip perempuan Bali yang "pendiam", malas bicara dan pengalah pun terbentuk. Kesenjangan kesetaraan gender dalam hal berbicara di muka umum masih terasa hingga kini.
Pada usia tua, stereotip perempuan Bali mengikuti konsep Hindu, yaitu : pengabdian hidupnya sudah mulai mengarah pada pengabdian kepada Tuhan. Sehingga tak heran, perempuan-perempuan tua mendominir kegiatan-kegiatan adat, terutama dalam mempersiapkan segala bentuk sesajen. Streotipnya : bijaksana, mengayomi, memasrahkan hidup pada Tuhan.
Bagaimanapun, streotip perempuan Bali tak lepas dari budaya yang membesarkannya. Streotip yang hidup karena kekentalan adat patriarkal. Tapi dengan adanya pendidikan dan masuknya budaya global dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali, lambat laun stereotip ini bisa saja berubah dimasa depan.
Bicara mengenai stereotip perempuan Bali, tentu mesti ngomong secara umum saja. Perempuan Bali bisa dibagi menjadi beberapa kelompok usia : remaja (12 - 18 thn), dewasa (19 - 55 thn) dan tua (55 tahun keatas).
Pada usia remaja, perempuan Bali tak ada bedanya dengan perempuan remaja lainnya di Indonesia. Bersekolah, memiliki aktivitas-aktivitas ekstra kurikuler, berpacaran. Bedanya hanyalah perempuan remaja Bali sudah mulai ikut aktivitas adat, seperti : ikut terlibat dalam karang taruna, mulai belajar membuat banten, diikutkan menari di acara-acara keagamaan, dsb. Stereotip mengenai gadis remaja Bali bertelanjang dada mengenakan busana adat Bali sudah tidak ada lagi di zaman modern ini.
Pada usia dewasa awal, perempuan Bali sudah bersiap untuk hidup berumah tangga. Kehidupan perempuan Bali mulai terbalik sekian puluh derajat setelah menikah. Sekian beban dan kewajiban rumah tangga dan adat mulai diberikan. Stereotip perempuan Bali yang bekerja keras, sampai mengambil pekerjaan kasar bisa dilihat di berbagai wilayah Bali. Hal ini benar adanya. Perjuangan perempuan Bali sangat terasa dalam setiap sendi kehidupan, dari kehidupan dimulai di pagi hari hingga petang hari. Belum lagi perjuangan yang mesti juga dilakukan di luar rumah. Hal ini membentuk stereotip jiwa perempuan Bali yang "keras", jarang mengeluh, penuh perjuangan, tidak mengenal putus asa. Sayangnya, karena konsep patriarkal yang kental, stereotip perempuan Bali yang "pendiam", malas bicara dan pengalah pun terbentuk. Kesenjangan kesetaraan gender dalam hal berbicara di muka umum masih terasa hingga kini.
Pada usia tua, stereotip perempuan Bali mengikuti konsep Hindu, yaitu : pengabdian hidupnya sudah mulai mengarah pada pengabdian kepada Tuhan. Sehingga tak heran, perempuan-perempuan tua mendominir kegiatan-kegiatan adat, terutama dalam mempersiapkan segala bentuk sesajen. Streotipnya : bijaksana, mengayomi, memasrahkan hidup pada Tuhan.
Bagaimanapun, streotip perempuan Bali tak lepas dari budaya yang membesarkannya. Streotip yang hidup karena kekentalan adat patriarkal. Tapi dengan adanya pendidikan dan masuknya budaya global dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat Bali, lambat laun stereotip ini bisa saja berubah dimasa depan.
22 November 2007
Tat Twam Asi
"aku adalah engkau, engkau adalah aku."
Jika aku adalah kamu, maka aku selayaknya menyayangimu, sesayang aku pada tubuh dan jiwaku. Sesakit aku menyakiti diriku, seperti itulah jika aku menyakitimu. Aku tak ingin hatimu retak seperti cawan keramik terkena goyangan gempa.
Jika aku mencelamu, maka aku mencela diriku sendiri. Mencemoohmu, sama dengan mencemoohku.
Bijak dan bajik, dua kata yang mesti terukir di benakku, untuk menyayangimu. Namun terkadang, sifat sad ripu menarikan kecak, berkeliling di api unggun, mengodaku untuk menyakitimu. Membuat air matamu tumpah, menggenang di dadamu yang kukuh. Kamu merenda kata dalam diammu, yang tak mampu kumengerti. Kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa dengki, iri, marah, bingung, bodoh. Gelap, terkadang gelap menguasaiku.
Maafkan aku. Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan padamu.
Jika aku mencelamu, maka aku mencela diriku sendiri. Mencemoohmu, sama dengan mencemoohku.
Bijak dan bajik, dua kata yang mesti terukir di benakku, untuk menyayangimu. Namun terkadang, sifat sad ripu menarikan kecak, berkeliling di api unggun, mengodaku untuk menyakitimu. Membuat air matamu tumpah, menggenang di dadamu yang kukuh. Kamu merenda kata dalam diammu, yang tak mampu kumengerti. Kepalaku hanya dipenuhi oleh rasa dengki, iri, marah, bingung, bodoh. Gelap, terkadang gelap menguasaiku.
Maafkan aku. Hanya kata maaf yang bisa kuucapkan padamu.
(Ajaran Tat Twam Asi berasal dari ajaran agama Hindu di India. Artinya : "aku adalah engkau, engkau adalah aku." Filosofi yang termuat dari ajaran ini adalah bagaimana kita bisa berempati, merasakan apa yang tengah dirasakan oleh orang yang di dekat kita. Ketika kita menyakiti orang lain, maka diri kita pun tersakiti. Ketika kita mencela orang lain, maka kita pun tercela. Maka dari itu, bagaimana menghayati perasaan orang lain, bagaimana mereka berespon akibat dari tingkah laku kita, demikianlah hendaknya ajaran ini menjadi dasar dalam bertingkah laku.)
11 Oktober 2007
Bali, Budaya dan Agama Hindu
Ketika bicara mengenai budaya Bali (adat istiadat), maka budaya ini tidak akan bisa dipisahkan dari Agama Hindu. Jika dicermati, keduanya bercampur dan membentuk keunikan budaya Bali yang unik itu.
Agama Hindu di Bali sangat berbeda dengan agama Hindu di India. Agama Hindu di Bali diserap ke dalam budaya masyarakat Bali hingga out-putnya jadi sangat berbeda dengan agama Hindu di India. Sebagai contoh : konsep sarana persembahyangan dalam agama Hindu yang terdiri dari : air, api, bunga, buah, daun menjadi beragam bentuknya di dalam beragam upacara keagamaan. Hingga, sangat sulit dipisahkan, mana agama dan adat istiadat.
Dalam kehidupan modern, ada beberapa tradisi yang disederhanakan setelah ditinjau dari berbagai dasar filsafat dalam agama Hindu. Namun, berbagai tradisi tetap dipertahankan seperti aslinya seperti di daerah-daerah Bali Tengah dan Bali Selatan.
Budaya masyarakat agraris yang kini telah menjadi masyarakat modern dalam berbagai bentuk, kadang-kadang menjadi dilema sendiri bagi individu yang menjalaninya. Seperti : kewajiban ngayah di banjar yang berbenturan dengan jam kerja para anggota banjar. Namun fenomena ini tidak melunturkan keinginan masyarakat Bali untuk meneruskan tradisi leluhurnya. Semuanya bisa dikompromikan dengan berbagai cara, mengambil konsep harmonisasi yang menjadi dasar filosofis cara berpikir masyarakat Bali.
Bali memang unik dan khas. Semoga saja tradisi yang sudah mendarah daging ini masih bisa dipertahankan dalam jangka waktu lama dan tidak punah dalam gerusan jaman.
Langganan:
Postingan (Atom)